BERITABUDAYA

Ewa Wuna Memukau Ribuan Pengunjung Silaturahmi Akbar KKMM Sultra, Warisan Bela Diri Leluhur Muna Kembali Bersinar

0
×

Ewa Wuna Memukau Ribuan Pengunjung Silaturahmi Akbar KKMM Sultra, Warisan Bela Diri Leluhur Muna Kembali Bersinar

Sebarkan artikel ini
Ketgam: Atraksi Ewa Wuna, seni bela diri tradisional khas masyarakat Muna, ditampilkan sebagai prosesi penyambutan tamu kehormatan pada rangkaian Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara di Pelataran Tugu Religi Eks MTQ Kendari, Minggu (19/7/2026). Pertunjukan warisan budaya leluhur tersebut menjadi salah satu daya tarik utama yang memukau ribuan peserta sekaligus menegaskan komitmen masyarakat Muna dalam melestarikan adat, budaya, dan semangat Kawunaha. Dok: Ist/Sentralsultra.com.

Kendari, Sentralsultra.com – Atraksi budaya Ewa Wuna, seni bela diri tradisional khas masyarakat Muna, sukses memikat perhatian ribuan pengunjung dalam rangkaian Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara di Pelataran Tugu Religi Eks MTQ Kendari, Minggu (19/7/2026).

Di hadapan sekitar 20 (dua puluh) ribuan peserta yang memadati lokasi kegiatan, pertunjukan Ewa Wuna menjadi salah satu penampilan yang paling dinantikan. Setiap gerakan para pesilat yang memadukan ketangkasan, keberanian, dan nilai-nilai adat disambut tepuk tangan meriah dari masyarakat.

Bagi masyarakat Muna, Ewa Wuna bukan sekadar seni bela diri, melainkan warisan budaya yang sarat filosofi dan telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam bahasa Muna, “ewa” berarti melawan atau menyerang, yang mencerminkan semangat keberanian sekaligus kemampuan mempertahankan diri.

Sejarah mencatat, Ewa Wuna telah berkembang sejak masa pemerintahan Latitakono, salah seorang Lakina (penguasa) Muna pada abad ke-17. Pada masa itu, Latitakono melakukan pembaruan sistem pemerintahan sekaligus memperkenalkan seni bela diri Ewa Wuna kepada masyarakat, dengan didampingi Menteri Besar (Bhonto Balano), La Marati.

Tradisi tersebut kemudian diwariskan kepada murid La Marati, yakni La Derumpa, yang selanjutnya menyebarkan Ewa Wuna ke berbagai wilayah di Pulau Muna, seperti Lawa, Tongkuno, Kabawo, hingga Katobu.

Di Desa Lakologou, Ewa Wuna mulai berkembang pesat pada masa kepemimpinan La Ode Karantu, ketika wilayah tersebut masih menjadi bagian dari Ghoerano Tongkuno.

Pada masa lampau, Ewa Wuna hanya dipelajari oleh kalangan tertentu. Selain berfungsi sebagai seni bela diri, pertunjukan ini juga menjadi bagian dari prosesi adat, seperti upacara pernikahan, pingitan, hingga penyambutan tamu kehormatan, termasuk Raja Muna.

Dalam Silaturahmi Akbar KKMM Sultra, atraksi Ewa Wuna dibawakan oleh dua kelompok binaan warga Gunung Jati dan Haji Basri, yang merupakan bagian dari komunitas Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna di Kota Kendari.

Sebanyak enam pesilat tampil memperagakan berbagai teknik bertarung menggunakan senjata tradisional. Dua orang memainkan badik, tiga orang menggunakan parang, sedangkan satu pesilat mempertunjukkan kemampuan memainkan tombak.

Setiap pesilat saling memperagakan teknik serangan dan pertahanan dengan penuh ketangkasan. Demi menjaga keselamatan para pemain, pertunjukan didampingi petombi atau pembawa bendera yang bertugas mengendalikan jalannya atraksi.

Penampilan tersebut semakin semarak dengan iringan musik tradisional Rambi Wuna yang dimainkan oleh lima orang pemusik, menghadirkan nuansa heroik sekaligus memperkuat nilai budaya dalam setiap gerakan para pesilat.

Ketua KKMM Sultra, La Ode Darwin, mengatakan bahwa berbagai atraksi budaya yang ditampilkan dalam Silaturahmi Akbar merupakan bentuk komitmen masyarakat Muna dalam menjaga persaudaraan sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur.

Menurutnya, budaya tidak akan tetap hidup tanpa adanya kepedulian dari generasi penerus untuk terus merawat dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

“Kita berkumpul di sini hari ini sebagai ajang mempertemukan seluruh masyarakat Muna yang berada di berbagai penjuru Indonesia, bersilaturahmi menjaga tali persaudaraan, sekaligus mengingatkan kepada seluruh generasi bahwa yang menjaga budaya itu hari ini adalah kita sendiri,” ujar La Ode Darwin.

Ia berharap momentum Silaturahmi Akbar KKMM Sultra tidak hanya menjadi ajang mempererat hubungan kekeluargaan masyarakat Muna, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Muna kepada generasi muda agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Dengan ditampilkannya Ewa Wuna di hadapan ribuan masyarakat, KKMM Sultra ingin menegaskan bahwa warisan budaya leluhur bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Muna, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya nasional yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *