KENDARI, Sentralsultra.com – Sebuah postingan di media sosial Facebook viral setelah mengungkap dugaan penipuan berkedok arisan yang diduga dilakukan seorang perempuan berinisial SA yang disebut-sebut merupakan istri oknum TNI di Kota Kendari.
Tim redaksi kemudian menghubungi sejumlah korban, salah satunya Rhyy Ar melalui Messenger Facebook pada Minggu, 10 Mei 2026. Dalam keterangannya, ia mengaku mengalami kerugian sebesar Rp3 juta akibat mengikuti arisan tersebut.
Rhyy Ar menjelaskan, SA ini merupakan istri oknum TNI yang sedang bertugas di Korem Kendari, awalnya arisan berjalan lancar dan tidak menimbulkan kecurigaan. Ia mengikuti arisan senilai Rp500 ribu yang dikelola SA bersama sejumlah peserta lainnya.
“Awalnya aman-aman saja beberapa bulan. Tapi pas sudah masuk sekitar enam kali lot, mulai tidak jelas,” ungkapnya.
Menurutnya, SA mulai menghubungi peserta satu per satu dan menjanjikan nama pemenang akan dijatuhkan terlebih dahulu, namun uang pencairannya baru diberikan pada bulan berikutnya.
“Padahal sistem awalnya tidak bisa request nama jatuh, tapi dia sendiri yang ingkari aturan itu,” katanya.
Korban menduga pengelola arisan mulai mengalami masalah keuangan hingga menerapkan sistem “gali lubang tutup lubang” untuk menutupi pembayaran kepada peserta lain.
Rhyy Ar menyebut, jumlah korban dalam grup arisan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 80 orang dan sebagian besar belum menerima pembayaran sebagaimana dijanjikan.
“Banyak sekali korbannya, di grup arisan sekitar 80 orang belum dibayar,” tambahnya.
Korban lainnya, Nadela, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp juga mengaku mengalami kerugian setelah mengikuti arisan senilai Rp1 juta yang baru berjalan satu bulan.
“Saya ikut arisan Rp1 juta kak, baru berlangsung satu bulan. Ternyata setelah anggota arisan sudah transfer semua, kebetulan waktu itu dia berangkat umroh dan posisi arisan belum di-lot,” ujarnya.
Nadela mengaku mulai curiga setelah SA tetap melakukan proses lot arisan saat berada di tanah suci. Ia menduga nama yang dijatuhkan dalam arisan tersebut merupakan nama samaran milik pengelola sendiri.
“Kita tahu arisan bodong setelah dia berangkat umroh. Dia lot sementara dia umroh, terus jatuh nama yang di-lot, tapi kami curiga itu nama samaran yang dia pasang untuk dirinya sendiri,” katanya.
Kecurigaan itu semakin kuat lantaran jumlah nomor WhatsApp dalam grup arisan dinilai tidak sesuai dengan jumlah anggota yang terdaftar.
“Contohnya di grup arisan Rp1 juta saya, anggota cuma 10 orang tapi nomor WhatsApp di grup ada 12 orang,” bebernya.
Menurut Nadela, setelah persoalan tersebut mulai ramai dibicarakan peserta, SA diduga langsung menutup seluruh grup arisan dan hingga kini uang para peserta belum juga dikembalikan.
“Sempat dia tutup semua grup arisan setelah kejadian itu, dan sampai sekarang belum ada uangku kembali,” ungkapnya.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, tim redaksi telah berupaya menghubungi SA melalui nomor WhatsApp yang bersangkutan. Namun, tiga kali panggilan telepon dan pesan yang dikirimkan tidak mendapatkan tanggapan maupun respons dari yang bersangkutan.
Para korban mengaku akan menempuh jalur hukum apabila dalam waktu satu minggu tidak ada itikad baik dari SA untuk mengembalikan uang peserta arisan. (**)












