KENDARI, Sentralsultra.com – Pendidikan Dasar Orientasi Arkeologi Universitas Halu Oleo (PEDAGOGI) ke-X menjadi momentum strategis dalam membangun kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian tinggalan budaya arkeologi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang pengenalan, tetapi juga fondasi pembentukan karakter arkeolog muda yang siap menjaga warisan sejarah daerah.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 13 hingga 16 Mei 2026 di kawasan Nipa-Nipa, Sulawesi Tenggara ini dirancang dengan pendekatan sistematis dan aplikatif. Selama empat hari pelaksanaan, peserta akan dibekali berbagai materi dasar yang mencakup metode kerja arkeologi, mulai dari survei lapangan, identifikasi dan klasifikasi artefak, hingga analisis serta interpretasi data arkeologis.
Selain penguatan aspek teknis, peserta juga diperkenalkan pada prinsip-prinsip pelestarian, etika penelitian, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara eksplorasi ilmiah dan konservasi situs. Hal ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya memahami arkeologi sebagai disiplin ilmu, tetapi juga sebagai praktik yang memiliki tanggung jawab sosial dan kultural.
Ketua Panitia, Imun Ahmad, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran kolektif mahasiswa arkeologi untuk memulai langkah nyata dari lingkungan terdekat.
“Yang kami harapkan, mulai dari kami, mengajak seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara mampu menjaga tinggalan arkeologi di Bumi Anoa yang kita cintai,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Arkeologi, Irman Aidit Jaya, menyampaikan bahwa arah gerak organisasi ke depan akan lebih strategis dan kolaboratif. Pihaknya berencana menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah terkait untuk menawarkan berbagai gagasan berbasis kajian ilmiah mahasiswa.
Menurutnya, sinergi tersebut penting guna memperkuat upaya pelestarian dan pewarisan tinggalan budaya, baik yang bersifat benda (tangible) maupun tak benda (intangible).
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, PEDAGOGI ke-X diharapkan menjadi pintu awal lahirnya arkeolog-arkeolog muda yang berintegritas, kritis, dan berkomitmen menjadi garda terdepan dalam menjaga serta mewariskan jejak peradaban di Bumi Anoa. (**)












