PEMPROV SULTRA

Perkuat Kemandirian Benih, Pemprov Sultra Luncurkan Sanggoleo Sultra dan Teknologi Otomasi

0
×

Perkuat Kemandirian Benih, Pemprov Sultra Luncurkan Sanggoleo Sultra dan Teknologi Otomasi

Sebarkan artikel ini

Wakatobi, Sentralsultra.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) terus memperkuat ketahanan pangan daerah melalui penguatan sistem perbenihan padi. Hal ini ditandai dengan peresmian Mesin Rice Seed Sorter dan Auto Scale Machines serta launching kemasan benih padi “Sanggoleo Sultra” yang dipusatkan di UPTD Balai Benih (BBI) Induk Wawotobi, Konawe, Selasa (30/12/2025).

Dalam sambutannya, Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka menegaskan bahwa pertanian merupakan denyut nadi kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara.

“Sektor ini tidak hanya menyediakan pangan, tetapi juga menjadi penopang ekonomi daerah, penyedia lapangan kerja, serta penyangga stabilitas sosial dan ekonomi wilayah pedesaan,” ucap Gubernur.

Keberhasilan pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh ketersediaan benih bermutu. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang sehat, produktif, dan adaptif terhadap lingkungan.

Sulawesi Tenggara saat ini memiliki luas lahan sawah sekitar 96 ribu hektare, termasuk pencetakan sawah baru tahun 2025 seluas 6.745 hektare. Luasan tersebut membutuhkan sekitar 2.400 ton benih per musim tanam.

Untuk memastikan kebutuhan tersebut dapat terpenuhi secara berkelanjutan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara terus meningkatkan pemenuhan benih bersertifikat melalui penguatan produksi, penyempurnaan proses pascapanen, serta optimalisasi sistem distribusi agar semakin menjangkau petani secara merata.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemprov Sultra menghadirkan teknologi otomasi mutakhir. UPTD BBI Wawotobi kini tercatat sebagai satu-satunya Balai Benih Induk (BBI) di Indonesia yang mengoperasikan kombinasi teknologi Rice Seed Sorter STS-600 (Tiger Kawashima) berkapasitas 400–600 kg per jam.

Alat ini dilengkapi teknologi sensor presisi untuk memilah benih beras secara otomatis dengan teknologi Auto Scale Machine CDCS-25 (Crown) yang mampu melakukan pengemasan otomatis sebanyak 400–600 kemasan per jam melalui sistem digital sehingga meminimalkan kesalahan manusia dan risiko kontaminasi.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sulawesi Tenggara juga menyaksikan secara langsung demonstrasi penggunaan teknologi pertanian modern lainnya, berupa aplikasi pestisida menggunakan drone, sebagai bagian dari upaya percepatan modernisasi pertanian dan efisiensi budidaya di tingkat lapangan.

Penggunaan teknologi perbenihan dan mekanisasi pertanian ini mampu menghasilkan benih dengan kemurnian fisik hingga 99 persen, daya tumbuh yang lebih seragam, serta standar pengemasan yang setara dengan industri benih modern.

Pada musim tanam MT II Tahun 2025/2026, BBI Wawotobi memproduksi benih padi bersertifikat berupa varietas Ciherang dan Inpari 42, dengan menggunakan sumber Benih Dasar (BD) berlabel putih dan menghasilkan Benih Pokok (BP) berlabel ungu, dengan potensi hasil produksi mencapai 7–12 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.

Peluncuran kemasan benih “Sanggoleo Sultra” menjadi simbol penting kemandirian benih daerah yang berakar dari kearifan lokal masyarakat Tolaki. Sanggoleo merujuk pada penghormatan terhadap Sanggoleo Mbae, dewa padi, sebagai doa atas kesuburan dan hasil panen melimpah, sekaligus bermakna menyatukan dan menghimpun sinergi antara tanah, air, petani, dan teknologi.

Benih Sanggoleo Sultra diproses menggunakan sistem digital dan otomasi penuh sehingga menjamin benih yang aman dan bersertifikat, memiliki ketahanan terhadap penyakit, serta daya tumbuh yang optimal dan seragam di lapangan.

Gubernur Sultra berharap, dengan penguatan sarana perbenihan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, termasuk penangkar, penyuluh, dan petani, Sulawesi Tenggara mampu menjadi salah satu pusat produksi benih unggul regional, sekaligus mengurangi ketergantungan benih dari luar daerah.

“Ini merupakan upaya kita guna membangun kemandirian benih daerah dan memperkuat identitas produk lokal, serta mendorong penangkar dan pelaku perbenihan untuk bekerja secara lebih profesional dan berdaya saing,” tutup Gubernur.

Sejalan dengan penguatan sistem perbenihan dan pemanfaatan teknologi modern, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara menargetkan capaian produksi padi sebesar satu juta ton pada tahun 2026 (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *