BERITANASIONAL

Enam Tahun JMSI, Teguhkan Peran Pers Jernih di Tengah Banjir Disrupsi Informasi

0
×

Enam Tahun JMSI, Teguhkan Peran Pers Jernih di Tengah Banjir Disrupsi Informasi

Sebarkan artikel ini
Ketgam: Suasana Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) saat menggelar acara malam penganugerahan yang menandai enam tahun perjalanannya dengan refleksi mendalam mengenai peran strategis pers di tengah derasnya disrupsi informasi yang kian membanjiri ruang publik. Dok: Ist/SS.

Serang, Sentralsultra.com – Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) menandai enam tahun perjalanannya dengan refleksi mendalam mengenai peran strategis pers di tengah derasnya disrupsi informasi yang kian membanjiri ruang publik.

Dideklarasikan pada 8 Februari 2020 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, JMSI menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan jurnalisme yang faktual, konstruktif, dan mencerahkan di tengah ekosistem informasi yang semakin kompleks.

Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa, menyebut enam tahun perjalanan organisasi tidak dilalui dalam situasi yang mudah. Dunia pers, menurutnya, berada di pusaran disrupsi informasi yang kerap memporak-porandakan tatanan ekosistem media.

Teguh mengutip pandangan Ketua Dewan Pers, Prof. Komaruddin Hidayat, yang mengibaratkan disrupsi informasi layaknya banjir besar.

“Kalau sudah banjir, semua porak-poranda, kacau balau. Sulit menemukan air bersih. Tapi manusia tetap akan mencari air bersih,” ujar Teguh, mengulang analogi tersebut.

Menurutnya, kondisi itu justru menegaskan relevansi pers profesional. Di tengah limpahan informasi provokatif dan sensasional, publik pada akhirnya akan mencari informasi yang jernih, faktual, dan memberi pencerahan.

“Masyarakat akan sampai pada titik jenuh dengan informasi yang hanya memancing emosi. Pada akhirnya, mereka akan mencari informasi yang konstruktif dan produktif,” kata Teguh dalam sambutannya pada Malam Anugerah JMSI Award, Minggu malam, 8 Februari 2026, di Serang, Banten.

Teguh menjelaskan, tema “Bikin Terang Indonesia” yang diusung JMSI bukan sekadar slogan. Tema tersebut diadopsi sejak Musyawarah Nasional (Munas) JMSI tahun lalu sebagai sikap organisasi dalam menghadapi pesimisme di era disrupsi.

Alih-alih larut dalam kekhawatiran, JMSI memilih mengambil peran sebagai bagian dari solusi kebangsaan.

“Kita ini pelaku pers profesional. Justru di tengah banjir informasi, peran kita makin relevan,” ujarnya.

Dalam rangka HUT ke-6, JMSI juga memberikan sejumlah anugerah sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata di ruang publik. Proses kurasi, kata Teguh, dilakukan secara berlapis dan melibatkan pengurus JMSI di daerah.

Pengurus daerah diminta mengusulkan tokoh-tokoh yang dinilai layak mendapatkan apresiasi, wartawan yang konsisten menghasilkan karya jurnalistik berkualitas, serta media siber yang dinilai paling profesional di masing-masing provinsi.

“Nama yang masuk itu sangat banyak. Tapi kita harus melakukan seleksi,” ujarnya.

Dari proses tersebut, JMSI menetapkan sejumlah kategori anugerah, mulai dari Golden Media, Golden Journalist, Golden Social Media, hingga Golden Leader.

Kategori Golden Leader menjadi salah satu sorotan utama. Teguh menjelaskan, anugerah ini terinspirasi dari kebutuhan bangsa akan pemimpin yang tidak sekadar menjabat, tetapi mampu mengeksekusi kebijakan dan menghadirkan dampak nyata.

“Dengan ambisi besar membawa Indonesia ke level berikutnya, bangsa ini membutuhkan pemimpin-pemimpin berkelas golden. Pemimpin yang inspiratif dan bisa mengeksekusi,” tegasnya.

Anugerah Golden Leader tidak hanya diberikan kepada pejabat publik, tetapi juga kepada tokoh sektor swasta, perbankan, dan bidang lain yang dinilai memiliki kepemimpinan berdampak.
Menutup sambutannya, Teguh menegaskan seluruh rangkaian HUT ke-6 JMSI diarahkan pada satu tujuan besar, yakni memastikan pers tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

“Kami ingin menghadirkan apresiasi kepada tokoh-tokoh yang menurut kami memiliki kriteria golden, agar semangat itu bisa ditularkan,” katanya.

Ia bahkan berkelakar, Indonesia Emas tidak harus menunggu 2045.

“Kalau bisa 2035, kenapa tidak,” ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Enam tahun setelah dideklarasikan di Banjarmasin, JMSI menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai organisasi media, melainkan bagian dari ekosistem kebangsaan yang berupaya menjaga kejernihan informasi di tengah arus disrupsi yang kian deras. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *