Kendari, Sentralsultra.com – Unit Penyelengara Bandar Udara (UPBU), Bandara Halu Oleo (HLO) Kendari menyatakan kesiapan dalam menghadapi potensi lonjakan penumpang pada masa Angkutan Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah tahun 2026. Kesiapan tersebut disampaikan Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara Halu Oleo Kendari, Denny Ariyanto, usai mengikuti rapat koordinasi penyelenggaraan Angkutan Lebaran Terpadu Kementerian Perhubungan Tahun 2026 (1447 H) tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara.
Rapat koordinasi tersebut dilaksanakan di Terminal Puuwatu, Jumat (13/3/2026), dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam operasional transportasi serta pengamanan selama masa mudik Lebaran. Sejumlah instansi yang hadir antara lain unsur Lanud, TNI, Polri, Basarnas, Kantor Kesehatan Pelabuhan, serta sejumlah maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara Halu Oleo.
Dalam keterangannya kepada awak media, Denny Ariyanto menegaskan bahwa pihak bandara telah melakukan berbagai persiapan guna memastikan pelayanan transportasi udara selama periode mudik dan arus balik Lebaran dapat berjalan lancar, aman, dan tertib.

Berdasarkan data statistik pergerakan penumpang pada tahun-tahun sebelumnya, pihaknya memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada H-3 Lebaran, sementara puncak arus balik diperkirakan berlangsung pada H+4 Lebaran.
“Kalau dari data statistik yang kami bandingkan dengan tahun sebelumnya, perkiraan kami puncak arus mudik terjadi pada H-3, sementara untuk arus balik diprediksi pada H+4,” ujar Denny.
Ia juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini terdapat 16 penerbangan yang melayani rute keberangkatan maupun kedatangan dari dan menuju Bandara Halu Oleo Kendari.
Selain mempersiapkan operasional penerbangan, pihak bandara juga menyoroti pentingnya integrasi transportasi lanjutan dari bandara menuju pusat kota maupun daerah sekitar. Salah satu yang menjadi perhatian adalah layanan transportasi darat seperti bus Damri yang selama ini dimanfaatkan oleh penumpang pesawat.
Denny menjelaskan bahwa penyelenggaraan transportasi darat bukan merupakan kewenangan langsung pihak bandara. Meski demikian, pihaknya tetap berupaya menampung aspirasi dan keluhan pengguna jasa transportasi udara serta melakukan koordinasi dengan instansi terkait.
“Kami tentu mendengar keluhan masyarakat pengguna transportasi udara. Walaupun itu bukan tupoksi kami untuk menyelenggarakan angkutan sektor darat, kami tetap berkoordinasi dengan Kepala Balai Transportasi Darat terkait hal tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa koordinasi juga dilakukan dengan berbagai stakeholder lain, termasuk TNI Angkatan Udara, mengingat Bandara Halu Oleo merupakan bandara yang beroperasi di kawasan militer.
“Bandara kita ini termasuk bandara civil enclave, yaitu bandara sipil yang beroperasi di wilayah milik TNI AU. Karena itu koordinasi dengan pihak TNI AU menjadi sangat penting dalam setiap rencana pengembangan maupun pelayanan transportasi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Denny mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pembahasan awal bersama Balai Pengelola Transportasi Darat serta para pemangku kepentingan lainnya untuk merintis sistem angkutan pengumpan (feeder) yang menghubungkan moda transportasi udara dengan moda transportasi darat.
Inisiatif tersebut diharapkan dapat mempermudah mobilitas penumpang dari bandara menuju berbagai wilayah di Sulawesi Tenggara, terutama saat terjadi lonjakan penumpang pada masa mudik dan arus balik Lebaran.
Dengan berbagai langkah persiapan tersebut, pihak Bandara Halu Oleo optimistis pelayanan kepada masyarakat selama masa Angkutan Lebaran 2026 dapat berjalan dengan baik, sekaligus memberikan kenyamanan bagi para pengguna jasa transportasi udara. (**)











