HUKUMKABUPATEN KONAWE KEPULAUAN

Rekan Kerja Bantah Tuduhan Intimidasi Pekerja Proyek RSUD Konkep oleh Oknum TNI, Itu Bohong

0
×

Rekan Kerja Bantah Tuduhan Intimidasi Pekerja Proyek RSUD Konkep oleh Oknum TNI, Itu Bohong

Sebarkan artikel ini

Konkep, Sentralsultra.com – 
Pernyataan Marianus terkait dugaan intimidasi dan penyanderaan terhadap pekerja proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Sulawesi Tenggara, oleh oknum TNI di Pulau Wawonii mendapat bantahan dari rekan kerjanya sendiri.

Salah seorang pekerja proyek RSUD Konkep, Ikmal, menegaskan bahwa tidak pernah terjadi intimidasi maupun penyanderaan terhadap Marianus sebagaimana yang sebelumnya disampaikan kepada media.

“Tidak ada informasi penyanderaan atau intimidasi terhadap Marianus seperti yang disampaikan beberapa hari lalu,” ujar Ikmal kepada Sentralsultra.com, Minggu (17/5/2026).

Ikmal juga membantah adanya keterlibatan oknum TNI berinisial Koptu R dalam aktivitas proyek pembangunan RSUD Konkep sebagaimana tudingan yang berkembang.

“Tidak ada keterlibatan oknum TNI atas nama Koptu R terkait proyek RSUD di Konawe Kepulauan seperti yang ditudingkan Marianus,” tegasnya.

Menurut Ikmal, Koptu R diketahui hanya memiliki kios yang dikelola istrinya dan berlokasi tidak jauh dari area pembangunan RSUD Konkep. Kios tersebut, kata dia, menjadi tempat Marianus bersama Budi mengambil kebutuhan harian berupa sembako selama bekerja di lokasi proyek.

“Sepengetahuan saya, Koptu R punya kios yang dikelola istrinya. Marianus bersama Budi yang merupakan iparnya memang sering mengambil barang kebutuhan sehari-hari di sana,” jelasnya.

Ia menilai tudingan intimidasi dan penyanderaan yang disampaikan Marianus tidak benar dan cenderung berlebihan.

“Tidak ada intimidasi, tidak ada penyanderaan terhadap Marianus bersama saudara dan keponakannya. Semua yang disampaikan Marianus itu bohong,” katanya.

Ikmal bahkan menyebut Marianus seharusnya berterima kasih kepada Koptu R karena selama bekerja di proyek tersebut, kebutuhan mereka beberapa kali dibantu dan dimaklumi.

“Harusnya Marianus berterima kasih karena selama bekerja mereka banyak dibantu dan dimaklumi soal kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Sebagai rekan kerja, Ikmal mengaku terkejut mendengar pengakuan Marianus yang merasa diintimidasi dan disandra.

“Saya juga kaget dengar informasi itu. Setahu saya tidak pernah ada penyanderaan ataupun larangan keluar dari Pulau Wawonii,” pungkasnya.

Kronologis Kepergian BudiDi sisi lain, rekan kerja lainnya bernama Aan turut membeberkan kronologis awal persoalan yang disebut bermula dari urusan utang piutang yang melibatkan Budi, Direktur perusahaan subkontraktor pada proyek pembangunan RSUD Konkep.

Menurut Aan, Marianus diketahui masih memiliki hubungan keluarga dengan Budi yang merupakan iparnya. Sementara Budi sendiri diketahui menjabat sebagai Direktur perusahaan yang mengerjakan salah satu subkon pekerjaan di proyek pembangunan RSUD Konkep.

“Marianus ini bagian dari keluarga Pak Budi, mereka iparan. Sedangkan Pak Budi adalah direktur perusahaan yang mengerjakan salah satu subkon pekerjaan di RSUD Konkep,” ujar Aan.

Aan menjelaskan, sebelum meninggalkan Pulau Wawonii, Budi sempat mengumpulkan sejumlah warga yang berkaitan dengan persoalan utang piutang miliknya. Pertemuan tersebut, kata dia, juga disaksikan oleh Babinsa setempat berinisial Koptu R.

“Budi sempat menyampaikan langsung kepada sekitar 15 warga yang memiliki hubungan utang piutang dengannya, salah satunya saya sendiri. Saat itu saya juga menghubungi Koptu R selaku Babinsa di wilayah tersebut,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut, lanjut Aan, Budi menyampaikan bahwa dirinya akan berangkat ke Jakarta untuk mengurus pekerjaan dan untuk sementara menyerahkan tanggung jawab pekerjaan proyek RSUD Konkep kepada Marianus bersama istrinya, Tini Kartini.

“Pak Budi menyampaikan kalau dirinya akan ke Jakarta untuk mengurus pekerjaan. Sementara urusan pekerjaan di lokasi proyek RSUD Konkep diserahkan kepada Marianus dan istrinya,” katanya.

Aan menyebut, Budi meninggalkan Pulau Wawonii pada 18 April 2026. Namun beberapa hari setelah keberangkatannya, tepatnya sekitar 21 April 2026, Budi sudah tidak dapat dihubungi lagi.

“Sekitar tanggal 21 April, Pak Budi sudah los kontak dan tidak bisa dihubungi lagi,” ungkap Aan.

Kondisi tersebut kemudian membuat sejumlah warga yang memiliki piutang kepada Budi merasa resah. Karena tidak lagi dapat berkomunikasi dengan Budi, warga akhirnya mempertanyakan keberadaan serta tanggung jawab pekerjaan kepada Marianus dan istrinya yang sebelumnya telah diberi amanah oleh Budi.

“Karena Pak Budi sudah tidak bisa dihubungi, kami kemudian bertanya kepada Marianus dan Tini Kartini terkait tanggung jawab yang sebelumnya sudah diserahkan kepada mereka. Namun Marianus dan Tini Kartini hanya meninggalkan janji bahwa mereka akan segera bertanggung jawab, tetapi itu juga tidak ditepati,” beber Aan kepada awak media.

Aan juga mengaku, saat ini Marianus dan istrinya sudah tidak terlihat lagi di tempat tinggal mereka maupun di wilayah Pulau Wawonii.

“Sekarang Marianus dan Tini Kartini sudah tidak kelihatan lagi di tempat mereka tinggal maupun di Pulau Wawonii ini,” tambahnya.Hal senada juga disampaikan pemilik rumah tempat tinggal Marianus dan Tini Kartini, Jumarding.

Ia mengaku kaget saat mendatangi rumah tersebut pada 14 Mei 2026 sekitar pukul 17:00 Wita karena keduanya sudah tidak berada di lokasi.

“Saya kaget juga, pas saya tiba di rumah mereka sudah tidak ada. Entah ke mana mereka pergi. Marianus dan Tini Kartini ini pergi tanpa memberikan kabar kepada kami,” ujar Jumarding.

Sebelumnya, Marianus melalui pemberitaan mengaku dirinya bersama sejumlah pekerja proyek RSUD Konkep mendapat tekanan dan tidak diperbolehkan meninggalkan Pulau Wawonii akibat persoalan utang piutang yang melibatkan salah seorang rekannya dengan oknum TNI berinisial Koptu R. Namun tudingan tersebut kini dibantah oleh rekan sesama pekerja di lokasi proyek. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *